Waktu Sholat

Recent Comments

Silahkan Tinggalkan Pesan


ShoutMix chat widget

Pengikut

Komunitas Bloger Kota Padang

Palanta - Komunitas Blogger Padang

Lantera MinangKabau

Lantera MinangKabau
LSH HIV/AIDS Sumbar

Komunitas Pemerhati Jalanan

23 Januari 2009

Mui Pasaman Dukung Pembangunan Keagamaan Dan Pemberantasan Kemaksiatan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pasaman mendukung sepenuhnya Program pembangunan di Kabupaten Pasaman terutama dalam bidang keagamaan dan kemaslahatan umat serta pemberantasan kemaksiatan.


Demikian salah satu poin pernyataan sikap tertulis MUI Kab Pasaman terhadap persoalan keumatan di Kab Pasaman, yang disampaikan Ketua MUI H.Maslan Nasution dalam sebuah pertemuan dengan Pemerintah Kab Pasaman di Balerong Pusako Anak Nagari, Selasa (20/1) malam.


Hadir pada kesempatan tersebut Bupati Pasaman Yusuf Lubis, SH, dan sejumlah kepala SKPD terkait yang berlangsung penuh


Pernyataan sikap MUI yang meliputi 6 poin itu, yang kedua adalah mendukung dan berperan aktif serta mempunyai tanggung jawab moral yang tinggi atas upaya kesuksesan pelaksanaan MTQ Nasional Tingkat Propinsi Sumatera Barat XXXIII di Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman tahun 2009. Ketiga, MUI Kab Pasaman mencermati penerapan Perda Nomor 21 dan 22, tahun 2003 tentang pandai baca tulis Alquran dan berpakaian muslim/muslimah bagi siswa, pegawai, karyawan/karyawati di Kabupaten Pasaman merupakan peraturan Daerah yang sangat berpotensi menghidupkan nuansa Islami di ranah Pasaman. Tapi realita menunjukkan bahwa perda tersebut belum difungsikan secara epektif da maksimal pada tataran implementasi. Sebagai contoh ketika seorang siswa akan memasuki sebuah sekolah, maka aturan yang ada dalam Perda itu dijadikan sebagai sebuah persyaratan. Tapi ketika seorang pejabat akan dipromosikan sebuah jabatan, maka perda itu tidak lagi menjadi perhatian.


Ke empat, Manfaat telepon genggam (HP) sangat besar jika kita ambil sisi positifnya. Tapi tidak bias dipungkiri dampak negatifnya amat besar terutama bagi para remaja, seperti penyalahgunaan HP sebagai sarana pornografi melalui dunia maya. Mengingat mudarat yang ditimbulkan dari hal tersebut, di rasa perlu ada suatu instruksi yang berlaku secara menyeluruh kepada seluruh lembaga pendidikan/sekolah yang ada di Kabupaten Pasaman untuk melarang siswa/I membawa HP ke sekolah mulai dari tingkat SD sampai dengan SLTA.


Kelima dalam usaha pemberantasan kemiskinan dirasa perlu mencarikan solusi alternative bagi masyarakat dalam menjalankan roda ekonominya yang sangat bergantung kepada pihak yang menawarkan jasa pinjaman dengan bunga yang

Keenam dalam rangka memberikan jaminan kepastian terhadap umat tentang kehalalan makanan dan proses bermuamalat di pasar-pasar di Pasaman perlu, adanya panduan dan tata penyembelihan hewan di tempat tempat penyembelihan hewan, dan adanya seruan tertulis dari Pemerintah Kab Pasaman berupa pengumuman.

Sumber
Rata Penuh

29 Desember 2008

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1430 H

Saya beserta keluarga mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430 H kepada seluruh Umat Muslim yang ada di Seluruh penjuru Dunia..khusunya untuk kawasan Sumbar.
Mari kita perkokoh jalinan silaturahmi dan ukhuwah islamiyah demi terwujudnya masyarakat yang lebih bermartabat dan memiliki nurani untuk pembangunan. Dan semoga kita semua dihindarkan dari segala kemunafikan dan azab dari Allah SWT.
Semoga  perjalanan hidup kita selalu dalam lindungan dan Ridho Allah SWT. .....amin

11 Desember 2008

Pasaman Barat Yang Kaya Tapi Miskin


5.300 ton CPO mengalir per hari dengan nilai Rp. 15.900.000.000,- (lima belas milyar sembilan ratus juta rupiah) yang diangkut oleh 265 truk tangki per hari.
CPO (Crude Palm Oil) sebagai hasil kelapa sawit merupakan komoditi andalan ekspor non migas Negara Indonesia sebagai penghasil nomor 2 di dunia setelah Malaysia.
Pasaman Barat memiliki luas lebih dari 200 ribu hektar perkebunan kelap sawit yang dikelola oleh Perkebunan Besar Nasional (PBN), Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Perkebunan Rakyat (PR).
Saat ini terdapat 9 pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) di Pasaman Barat, berikut datanya:

Perbulanya Pasaman Barat menghasilkan 6.625 ton CPO dengan nilai Rp. 397.5 Milyar.  CPO sebagai komiditi ekspor jelas memberikan devisa yang cukup besar buat Negara. Dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) saja sudah diperoleh pendapatan sebesar Rp. 39.75 Milyar, berdasarkan dana perimbangan daerah seharusnya Pasaman Barat menerima Rp. 29.81 Milyar, cukup memakmurkan lebih kurang 300 ribu penduduk Pasaman Barat, dan jika dibagi akan memperoleh Rp. 99.375 juta per orang, belum termasuk hasil inti sawit (PKO), namun APA YANG DIPEROLEH PASAMAN BARAT ???.
-  PAD Pasaman Barat tahun 2006 hanya sebesar Rp. 9 milyar
- 265 truk tangki yang melewati jalan kelas III B  sepanjang 192.3 km yang merupakan jalan propinsi terpanjang untuk kabupaten di Sumatera Barat rusak berat karena telah melanggar PP nomor 43 tahun 1993 pasal 11
- Restribusi untuk truk tangki hanya Rp. 3.000,-/tangki
- Rata-rata 2 kecelakaan terjadi tiap hari akibat jalan rusak tersebut yang terbentang mulai dari  batas propinsi Sumut hingga Padang Sawah
- Masyarakat Pasaman Barat tetap miskin
- Pembangunan tersendat-sendat
Siapa seharusnya yang berteriak dan memikirkan hal ini?.  Sekaranglah saatnya kita buka mata dan telinga bahwasanya Pasaman Barat itu kaya tetapi kenapa masyarakatnya tetap miskin?.  Pendapatan dari CPO tersebut hanya salah satu dari potensi yang ada di Pasaman Barat sebagai penghasil devisa yang harus dikembalikan ke masyarakat Pasaman Barat dan bukan sebagai lahan untuk memperkaya pejabat atau golongan tertentu saja, mari kita kembalikan hak masyarakat Pasaman Barat dan kita hapus imprealisme dari muka bumi Pasaman Barat. Disadur dari LSM WAMPEL

08 Desember 2008

Hikmah Dibalik Idul Adha

Idul Adha kembali hadir di tengah-tengah kita. Idul Adha memiliki hikmah dan makna yang amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran agama yang substansial. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu dimaknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal Islam.

Saat ini kita masih berada dalam rangkaian hari-hari Tasyrik. Pada hari ini kita masih berkesempatan menyembelih hewan kurban, mengumandangkan takbir, dan dilarang menjalankan shaum. Dengan kata lain, nuansa Idul Adha masih kental menyelimuti keseharian kita. Semoga, di balik itu semua, ada satu hal penting yang harus kita internalisasikan dalam diri. Yaitu, bagaimana nuansa Idul Adha yang hanya lima hari ini (9 sampai 13 Dzulhijjah) bisa menjiwai nuansa keseharian kita? Untuk menjawab hal ini, kita bisa menelaah kembali hikmah dari Idul Adha ini.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari momentum Idul Adha ini. Dari sekian banyak hikmah tersebut, berikut beberapa makna tersirat dari momentum Idul Adha yang merupakan hasil perenungan penulis sendiri :

  1. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, ada satu pelajaran penting untuk kita renungkan. Ketika hewan qurban disembelih berarti menyembelih pula sifat-sifat kebinatangan yang ada padanya. Di sinilah hikmah penting bagi kita, di mana kita pun harus segera menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita. Banyak manusia yang telah jatuh derajatnya menjadi ”binatang”, sebab sifat-sifat bahimiyyah (kebinatangan) telah melingkupi perangai dan perllakunya. Sebagai makhluk yang terhormat tentu kita tidak ingin derajat kita jatuh menjadi binatang. Untuk itu sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita, seperti sifat rakus, serakah, pelit, mau menang sendiri, sombong dan lain sebagainya harus segera kita ”sembelih” dari diri kita. Inilah salah satu makna tersirat dari ibadah qurban yang jarang kita pahami.
  2. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, kita juga menyaksikan bagaimana darah hewan qurban kita membasahi bumi ini. Di sana ada satu hikmah besar yang bisa jadikan pelajaran. Bila saat ini yang kita kurbankan untuk Allah adalah darah hewan qurban kita, suatu saat jika dibutuhkan kan kita juga harus siap mengorbankan darah dan jiwa kita untuk Allah SWT. Inilah bentuk pengorbanan terbesar yang harus berani kita tunjukkan kepada Allah sebagai bukti keimanan kita, sebagaimana yang telah didemonstrasikan pula oleh Nabiyullah Ibrahim dan keluarganya. Allah pada hakikatnya tidak membutuhkan apa-apa, termasuk persembahan. Perintah itu hanya untuk menguji ketaatan manusia dalam merespons pesan dan perintah Ilahi dan kesediaannya untuk tidak dikungkung kediriannya yang subyektif, atau impuls-impuls kejahatan yang menipu. Persembahan sekadar suatu simbol yang melambangkan makna yang lebih substansial, yaitu ungkapan ketaatan untuk mengembangkan nilai-nilai agama yang sejatinya selalu bersesuaian dengan nilai kemanusiaan perenial.
  3. Salah satu hikmah mengapa Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba adalah bahwa Allah tidak mau manusia dijadikan kurban. Allah menjadikan hewan sebagai kurban. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mulia disisi-Nya. Maka sungguh aneh kalau di zaman sekarang ada orang yang dengan mudahnya mengorbankan sesama manusia demi mengejar kepentingan pribadinya. Dan tersirat pula pesan yang ingin memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya. Secara historis pun ada pelajaran penting yang bisa kita renungkan. Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa. Di Mesir kuno, setiap tahunnya selalu dilaksanakan kontes kecantikan, dan yang terpilih akan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai persembahan kepada dewa. Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama. Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia. Manusia itu terlalu mahal untuk dikorbankan. Hikmahnya, kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, bahagiakan manusia, dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan.
  4. Salah satu hikmah terpenting dari momentum Idul Adha yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan bangsa saat ini, yaitu semangat dan keikhlasan untuk berkorban. Semangat untuk berkorban dengan tanpa pamrih pada dasarnya akan menumbuhkan solidaritas sosial masyarakat. Apalagi saat ini kita menyaksikan betapa bangsa dan negara kita tengah dilanda oleh berbagai fenomena musibah dan bencana alam yang teramat dahsyat. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, lumpur panas, dan kebakaran terjadi di mana-mana. Gelombang bencana ini telah memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan masyarakat. Fasilitas-fasilitas kehidupan pun mengalami kerusakan yang teramat parah. Jalan-jalan banyak yang rusak, rumah-rumah banyak yang terendam, harta benda lainnya banyak tidak dapat berfungsi seperti sediakala, akibat tidak dapat diselamatkan. Bencana ini pun menimbulkan trauma psikologis bagi warga masyarakat. Masyarakat menjadi panik, gelisah, dan khawatir jika bencana itu datang lagi. Semangat berkurban harus tercermin dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Semangat berkurban terutama harus ditunjukkan oleh para pemimpin dan kaum elit negeri ini. Tidak hanya rakyat yang diminta untuk berkurban, tetapi para pemimpin harus memberikan contoh. Tidak berkhianat terhadap amanah jabatan yang diembannya merupakan salah satu contoh pengorbanan yang dilakukan. Karena pengkhianatan terhadap amanah, hanya akan membawa bangsa ini pada kehancuran. Seseorang yang mengkhianati amanahnya biasanya memiliki sifat rakus dan tamak. Watak rakus dan tamak ini akan menempatkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain. Segala macam cara akan dipergunakan untuk mendapatkan berbagai jabatan dan kedudukan yang dianggapnya akan memperkaya dan menguntungkan diri dan kelompoknya. Jabatan akan dipertahankannya walaupun secara etika dan moral sudah tidak layak disandangnya, karena banyak anggota masyarakat yang menolak kepemimpinannya.
  5. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dua manusia terbaik yang ada di bumi telah berhasil mengangkat nilai martabat manusia pada kedudukan yang sesungguhnya, penghambaan secara total kepada Sang Khalik। Ibrahim menyerahkan putranya untuk disembelih dihadapan Allah, sebuah penggambaran totalitas ketertundukan seorang manusia kepada Tuhannya। Melalui Nabi Ibrahim, manusia telah melihat sebuah nilai pengorbanan yang bersih dari nilai-nilai kesombongan, keangkuhan, dan kesemuanya hanya tertunduk patuh pada-Nya. Kerelaan Nabi Ismail untuk disembelih merupakan perwujudan cinta kasih yang sangat luar biasa kepada sang ayah atas nama Tuhan. Ketika pengorbanan diminta, tak ada perdebatan, tak ada keberatan, tak ada penolakan sedikitpun, inilah manusia yang mulia yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu nafsu yang selalu mengajak untuk cinta dunia secara mutlak.

Dari beberapa hikmah tersebut bisa kita ambil kesimpulan, dimasa-masa krisis yang melanda Indonesia saat ini...diperlukan pengorbanan untuk bisa hidup lebih berkualitas. Sumatera Barat yang saat ini juga telah merasakan dampak krisis global harusnya bisa mawas diri dan selalu bertawakal kepada Allah, mudah-mudahan badai krisis ini bisa segera mereda. Petani Kelapa Sawit, Petani Karet, Pengusaha angkutan, dan lainnya jangan cepat menyerah...Tetap berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

Artikel disadur dari sini